Franchise Games Berlainan Identitas

Saat punyai franchise yang sukses, developer akan coba jaga formulasi yang sudah dibuat namun berdapat Franchise Games Berlainan Identitas .

Karena mereka mengetahui formulasi itu sukses dan penggemar akan mengomentari panas saat games baru jauh berbeda dari seri awalnya. Tetapi ada kalanya di mana developer coba melakukan eksperimen terutamanya pada franchise tua dengan keinginan bisa bawa kembali franchise ke periode jaya dan sesuaikan dengan ketertarikan pasar.

Franchise Games yang Berlainan Identitas dengan Seri Awalannya

Kesempatan ini, kami akan mengulas masalah franchise games yang sudah bertukar “identitas” berulang-kali. Tampil berbeda di pasar yang bersaing seperti saat ini bukan hal yang jelek.

Tetapi sebuah berbohong jika kita tidak rindukan “muka lama” dari beberapa game di bawah ini. Tanpa panjang lebar kembali, berikut franchise games dengan tersering tukar identitas.

Need for Speed

Need for Speed bermula sebagai games balap mobil eksklusif dengan trek yang berada di posisi iconic tertentu. Dimulai dari peluncuran Need for Speed: Underground, franchise punya EA ini “banting stir” jadi balap jalanan dengan narasi cheesy, handling yang lebih arcade-y, dan penuh style anak remaja.

Saat Criterion Game, developer dari Burnout, dipilih sebagai salah satunya developer. Direksi franchise kembali berbeda dan balapan sekarang lebih beringas dengan bermain nakal seperti “takedown” mulai ditonjolkan. Style bermain seperti ini selalu didorong sampai Criterion Game diambil jadi developer suport dan Ghost Game menggenggam penuh pakar franchise.

Pada tangan Ghost Game, franchise balap ini “reboot” balik ke zaman Underground. Games kembali konsentrasi pada balap jalanan dengan penyesuaian beragam warna, narasi ala-ala film Hollywood, dan takedown yang sedikit diminimalkan. Tetapi kontrol Ghost Game tidak tahan lama dan Criterion kembali dipilih. Pertanyaan sekarang ini adalah apa franchise balap kecintaan EA itu akan jaga direksi saat ini, atau balik lagi dengan balap takedown ala-ala Burnout?

Assassin’s Creed

Assassin’s Creed jadi launching yang paling sukses untuk Ubisoft, blueprint open-world yang dikenalkan games tersebut dipakai sampai sekarang ini dan memberikan inspirasi beberapa developer yang lain. Walau demikian, semua penggemar dari AC akan sepakat jika seri belakangan ini terus meleset dari identitas 3 games pertama kalinya.

Ke-3 games awalnya dari franchise action ini konsentrasi pada stealth, tindakan cepat dan kombinasi riwayat dan fiksi yang imbang. Ketepatan riwayat benar-benar jadi hal yang jadi perhatian oleh Ubisoft pada beberapa game awalnya sampai mereka buang crossbow di games pertama karena senjata itu cuman berada di Asia pada latar waktu Altair ada. Komponen fiksi teruslah terjadi, tetapi terbatas pada piece of eden pada waktu itu.

Dimulai dari Assassin’s Creed Origins, games peroleh rombakan besar pada gameplay-nya. Games sekarang dipenuhi oleh komponen RPG dimulai dari mekanisme EXP, lawan yang punyai tingkat dan lebih sponge-y untuk dibunuh, mekanisme kemampuan, dan ada banyak kembali. Komponen narasi makin ke arah fiksi dengan timbulnya dewa Anubis, Atlantis, dan bermacam lawan atau latar skenario fantasi yang lain.

Menyaksikan penggemar nampaknya juga lupa jika protagonis khusus games sudah mati nyaris satu dasawarsa lalu ditambah lagi penerbit/publisher lebih memprioritaskan checklist diversitas daripada ketepatan riwayat. Penggemar kemungkinan harus pasrah mengharap franchise ini akan balik ke identitas lama.

Ghost Recon Franchise Games Berlainan Identitas

Ghost Recon bermula sebagai games sebagai games shooter militer strategial yang prioritaskan taktik squad dan gameplay vital. Lawan atau pemain bisa meninggal cuman dalam kedipan mata jika status terpampang, membuat seri ini dikenali sebagai shooter yang susah dan perlu kesabaran.

Saat masuk angkatan ketujuh console (Xbox 360/PS3/Wii), Ubisoft mulai mengubah keseluruhan gameplay untuk mengundang perhatian pendatang baru. Gameplay sekarang lebih dipermudahkan dengan pemain bisa bertahan hidup sesudah ditembak beberapa peluru. Mereka tidak bisa sembuhkan HP, tapi pemain diperlengkapi dengan mekanisme cover yang paling menolong untuk tetap bertahan hidup.

Identitas militer hardcore yang diperkenalkan pada seri pertama selanjutnya raib keseluruhan saat masuk Future Soldiers. Tidak cuman latar beralih menjadi modern, gameplay sekarang lebih dekati third-person shooter kekinian seperti Gears of War dan kamu tidak perlu kembali mengurusi squad karena games bisa dimainkan coop.

Ghost Recon: Wildlands menjadi lagi reboot keseluruhan dari franchise ini. Ambil blueprint sukses dari Assassin’s Creed dan Far Cry, Ubisoft kembali mengubah games jadi open-world sarat dengan rutinitas sambilan. Gameplay sudah dibikin jadi shooter biasa dengan bermacam checklist ciri khas games garapan Ubisoft.

Halo

Halo kemungkinan sudah memutar FPS console dan jadi blueprint implikasi FPS pada controller untuk sekian tahun setelah itu. Tetapi dengan adanya banyak games FPS yang coba bersaing di pasar, sebuah pengubahan besar terjadi di franchise ini sangat dipahami agar terus berkaitan.

Sesudah Bungie memundurkan diri dari franchise ini sesudah menutupnya dengan Halo 3. Studio baru dibuat oleh Microsoft untuk lanjutkan narasi Master Chief. 343 industries tercipta dan mereka coba sedapat mungkin untuk memodernisasi Halo ke pasar di mana Call of Duty dan Battlefield memimpin.

Halo Reach, Halo 4, dan Halo 5, ke-3 games ini kenalkan sejumlah fitur seperti sprint, slide, groundpound, loadout, killstreak dan yang lain yang kamu harap dari FPS selesai Kekinian Warfare, dan ke-3 nya peroleh hajatan yang tidak sepositif games garapan bungie. Dari sisi komune juga, games lama malah lebih disukai dibanding rendisi baru.

Penggemar melihat 343i lebih membuat games yang “seperti tren pasar” daripada menjaga identitas yang sudah dibuat oleh seri awalnya, membuat mereka jadi punching-bag akan menurunnya salah satunya franchise iconic Microsoft itu.

Halo Infinite dari sisi visual ambil nampaknya coba ingin balik ke zaman Halo:CE, tetapi direksi gameplay nampaknya kembali dibongkar. Games peluang bisa menjadi games semi open-world komplet dengan visi sambilan, dan dari faktor gunplay dilihat ambil banyak ide dari Doom 2016. Penggemar ada banyak yang skeptis dengan games Halo baru itu, tetapi kita saksikan saja di saat launching kelak.

Call of Duty

Call of Duty semestinya jadi religius suksesor Medal of Honor sesudah beberapa developernya keluar dari EA, tetapi semua berbeda sesudah Kekinian Warfare sukses besar. Franchise yang awalannya diutamakan mengenai perang dunia ke-2 beralih menjadi perang kekinian dengan kelompok senjata militer saat ini.

Saat formulasi mulai statis karena launching yang diminta tahunan, Infinity Ward, Treyarch, dan studio baru Sledgehammer Game. Coba membuat franchise ini fresh kembali dengan berpindah ke modern. Kesuksesannya Titanfall yang dikerjakan oleh beberapa bekas developer Infinity Ward, COD malah coba mengikuti games bikinan si bekas dengan menambahkan wallrun dan teknisi modern yang lain.

Dikritik penggemar, Sledgehammer coba bawa kembali COD ke “akar” dengan Call of Duty: WW2. Walau dengar keinginan penggemar, games itu malah jadi salah satunya yang berperfoma terjelek dimulai dari hajatan penggemar dan tingkat komunitasnya yang jatuh tercepat.

Saat Overwatch launching, hero-based shooter jadi tren terkini dan semua coba menaklukkan games garapan Blizzard itu. Entahlah apa desakan dari Activision yang penerbit/publisher dari Overwatch.

Tetapi Black Ops 4 kembali mengganti identitas games jadi semi hero-based. Gameplay masih sama seperti yang kamu harapan dari Call of Duty. Dengan kemampuan dari beberapa watak lebih mencolok dari implikasi awalnya di Black Ops 3.

12 tahun jadi games launching tahunan sesudah peluncuran Kekinian Warfare 2007, susah untuk hadirkan gagasan baru kembali. Oleh karena itu, Infinity Ward cenderung pilih untuk balik ke gagasan lama.

Tanpa kembali topik modern, tanpa kembali mekanisme watak, tanpa kembali penggemarervice kembali ke perang dunia 2; Infinity Ward pilih untuk reboot kembali Kekinian Warfare.

Tidak ada gimmick mencolok apa saja dari reboot satu ini. Kekinian Warfare 2019 terlihat seperti games yang kamu harap dari 2007 tetapi dengan produksi, tehnologi dan teknisi yang semakin tinggi.

Untuk berbagai informasi lainnya seputar teknologi dan dunia game bisa langsung kunjungi halaman situs https://lapakgadget.com